Tanjung -- Budi Daya ikan Mas, Nila, Patin atau Lele yang dibantu lewat program CSR bidang ekonomi kepada masyarakat itu sudah biasa. Bahkan sampai pemeliharaan ayam pedaging dan kambing pun pernah diberikan.
Alhasil semua program sektor budi daya perikanan dan peternakan itu tidak ada yang bertahan sampai sekarang. Setelah di evaluasi ada beberapa kendala yang dihadapi oleh masyarakat atau kelompok yang menerima bantuan.
Antara lain harga pakan yang terus naik sementara harga ikan cenderung turun, selain itu faktor musim dan cuaca juga sangat mempengaruhi. Demikian dikatakan oleh Rijali Humas PT Pama saat memberikan penjelasan pada awak Metro Tanjung.
Untuk program CSR 2014 yang lalu sektor ekonomi yang salah satunya adalah bidang peternakan dan perikanan. CSR Pama mencoba membudidayakan ikan Belut. Tempatnya di desa Matang Hanau kecamatan Lampihong Kabupaten Balangan.
Ini merupakan terobosan baru karena sebelumnya belum pernah dilakukan. Pertimbangann ya adalah, pakan Belut tidak harus dibeli bisa dicari di lingkungan sekitar, seperti Keong dan gulma air yang banyak ditemukan di persawahan masyarakat. Belut juga bukan hanya dikonsumsi oleh sebagian masyarakat juga sebagai komoditi ekspor.
“Dari hasil survey yang kami lakukan kata Rijali yang sempat menemui beberapa pengumpul belut, menurut mereka ada beberapa negara sebagai tujuan ekspor seperti Jepang, Korea dan Cina,” katanya.
Harga belut juga tidak kalah dengan harga ikan lainnya. Menurut para pengumpul harga belut bisa mencapai Rp 25.000- Rp.30.000 per kg. Harga ini pun bisa lebih mahal lagi jika barangnya sedikit. Cara pemeliharaan belut juga tidak serumit pemeliharaan budi daya ikan biasa. “Doakan saja semoga program ini bisa berhasil yang gilirannya bisa meningkatkan ekonomi masyarakat juga bisa dijadikan percontohan bagi yang berminat,” kata Rijali lagi. (metro7/via)
Alhasil semua program sektor budi daya perikanan dan peternakan itu tidak ada yang bertahan sampai sekarang. Setelah di evaluasi ada beberapa kendala yang dihadapi oleh masyarakat atau kelompok yang menerima bantuan.
Antara lain harga pakan yang terus naik sementara harga ikan cenderung turun, selain itu faktor musim dan cuaca juga sangat mempengaruhi. Demikian dikatakan oleh Rijali Humas PT Pama saat memberikan penjelasan pada awak Metro Tanjung.
Untuk program CSR 2014 yang lalu sektor ekonomi yang salah satunya adalah bidang peternakan dan perikanan. CSR Pama mencoba membudidayakan ikan Belut. Tempatnya di desa Matang Hanau kecamatan Lampihong Kabupaten Balangan.
Ini merupakan terobosan baru karena sebelumnya belum pernah dilakukan. Pertimbangann ya adalah, pakan Belut tidak harus dibeli bisa dicari di lingkungan sekitar, seperti Keong dan gulma air yang banyak ditemukan di persawahan masyarakat. Belut juga bukan hanya dikonsumsi oleh sebagian masyarakat juga sebagai komoditi ekspor.
“Dari hasil survey yang kami lakukan kata Rijali yang sempat menemui beberapa pengumpul belut, menurut mereka ada beberapa negara sebagai tujuan ekspor seperti Jepang, Korea dan Cina,” katanya.
Harga belut juga tidak kalah dengan harga ikan lainnya. Menurut para pengumpul harga belut bisa mencapai Rp 25.000- Rp.30.000 per kg. Harga ini pun bisa lebih mahal lagi jika barangnya sedikit. Cara pemeliharaan belut juga tidak serumit pemeliharaan budi daya ikan biasa. “Doakan saja semoga program ini bisa berhasil yang gilirannya bisa meningkatkan ekonomi masyarakat juga bisa dijadikan percontohan bagi yang berminat,” kata Rijali lagi. (metro7/via)

0 Comments