Usus Terburai Tertindih Kontainer , Sarto Tewas, Kondisi Badan Lepek

Ilustrasi
BANJARMASIN,- Sarto (32),  warga Desa Bentok Kabupaten Tala tewas dengan kondisi separo badan lepek dan usus terburai akibat tertindih 4 Fitt (empat buah, Red) kontainer, kemarin (28/4) siang, di Pelabubuhan Bongkar Muat Peti Kemas Trisakti Banjarmasin Barat.
Ironisnya Sarto yang diketahui sebagai mekanik dari  PT Panca Tehnik, baru diketahui telah tewas akibat tertindih kontainer, setelah teman kerjanya Kurnadiansyah (36) mencari korban untuk mengajak melanjutkan pekerjaannya memperbaiki Ruber Tayer Gantri (RTG).
Menurut keterangan Kurnadi, dia dan korban sudah mepet hari bekerja memperbaiki RTG itu, dan sebelum kejadian dia bersama korban beristrahat setelah setengah hari memperbaiki RTG itu, kemudian setelah makan siang bersama, korban masing-masing istirahat rebahan di atas motor tidak jauh dari RTG yang diperbaiki.
Namun,  jelas Kurnadi,  ketika beristrahat siang itu hingga ia dan korban tertidur, aktifitas kerja pembongkaran kontainer tidak ada sama sekali. Setelah itu dirinya tidak lama bangun dan ketika itu saya tidak melihat korban yang saat itu juga rebahan di atas motornya.
“Saya keliling di sekitar kejadian tidak melihat korban dan saya hubungi Hp nya aktif,  namun tidak diterima,” kata Kurnadi.
Saat ia keliling di tempat kerja,tanpa sengaja ia melihat tangan dari bawah kontainer. “Ternyata itu tangan Sarto yang badannya separo tertindih kontainer sebanyak empat  Fitt. Dan saya langsung shok melihat kondisi Sarto,” kata Kurnadi.
Diungkapkan Kurnadi,  korban sudah lima tahun bekerja di PT Panca Teknik, dan terakhir dirinya berbincang banyak saat pagi sebelum bekerja korban sempat bercerita bahwa anak korban sedang sakit berencana bawa ke dokter dan katanya mau pulang setelah setengah hari bekerja, setelah itu korban membatalkan pulang cepat.
Sementara,   operator RTG PT Kuda Inti Indra mengatakan saat bekerja menurunkan kontainer dirinya tidak bisa melihat ke bawah, namun kata dia pada saat aktifitas membongkar maupun memuat peti kemas di kawasan itu dilarang keras tidak ada aktifitas lain. “Saat saya menurunkan kontainer posisi saya tidak bisa melihat ke bawah, begitupun seorang Teli (pemandu) ketika pemandu RTG untuk menurunkan kontainer tidak melihat sama sekali bahwa ada orang saat itu di bawah,” cetusnya.
Kapolsek Kawasan Pelabuhan dan Laut (KPL) Kompol Fachrul Sebastian, melalui Kanit Reskrim Ipda Sisworo Z, mengatakan pihaknya masih meminta keterangan dari saksi dan operator terkait tewasnya korban.Metro7/Fit
Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar